Kehadiran internet telah mengubah wajah dunia kita hari ini. Thomas L. Friedman, penulis buku “The World is Flat” mengatakan, “dunia ini rata akibat kehadiran internet. Revolusi akibat internet memberikan wajah berbeda bagi dunia yang kita huni dewasa ini.” Tentu saja kata rata tersebut sebuah metafora. Dunia ini masih tetap bundar kok bak bola basket.
Yang dimaksud Pak Friedman ini, internet telah mengubah dunia menjadi tanpa tapal batas geografis. Manusia di belahan bumi mana pun dapat terhubung secara seketika (real time) dengan manusia lain yang berada di belahan bumi lainnya. Dunia menjadi rata, tanpa ada sekat. Tentu saja fenomena ini mengubah sikap dan perilaku manusia. Bahkan kehadiran internet telah mampu merubah sikap budaya manusia sejagat. Globalisasi menjadi sesuatu yang tak terelakkan.
Like Abel and Cain
- a poem by Avian Dewanto
What is your shampoo?
What is your gums?
What is your snacks?
What is your clothes?
What is your gadgets?
What is your movie?
What is your wives?
Is it come from your neighbor’s tv?
Like Abel and Cain?
Namun, meski “shampoo, permen, keripik, pakaian, peralatan, tontonan, bahkan istri” yang kita lihat sehari-hari secara budaya telah mengikuti selera global, tidak berarti perilaku manusia ikut berubah. Meski telah hidup dalam gaya global, toh, selera makan tetap saja sama. Seperti saya ini, kalau belum makan nasi seharian, selalu bilang belum makan. Apalagi kalau belum makan jengkol balado sampai sebulan, rasanya badan menjadi keringat dingin.
Meski budaya telah menjadi global, tetap saja, mereka yang tak takut akan Allah berperilaku seperti sedia kala. Sedang mereka yang takut terhadap Allah pun tak banyak bertambah -kalau tak mau dikatakan semakin berkurang. Dunia ini, meski nyata telah terjadi globalisasi dengan kehadiran internet, tetap saja dihuni oleh dua kelompok tersebut: Mereka yang takut akan Allah (fear of God) dan mereka yang tak takut akan Allah (no fear of God) -terlepas dari apa pun kepercayaan mereka kepada Tuhan bahkan jika di antara mereka yang tak percaya kepada Allah, tetap saja manusia terkelompok besar seperti itu.
Tidak berarti kehadiran internet peristiwa Abil dan Kain tak lagi pernah terjadi. Ingatkah Anda akan pembunuhan manusia yang pertama kali terjadi di muka bumi ini? Apa penyebabnya? Rakus? Karena rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri? Hari ini pun masih saja terjadi. Apakah kemudian manusia juga tak tahu soal umat Nabi Luth? Bohong besar kalau mereka tak pernah tahu kisah mengerikan itu. Yakni ketika Allah menyiramkan virus mematikan kepada seluruh kaum yang semasa dengan Nabi Luth -termasuk istri dan anak Nabi Luth.
Tahukan mereka itu ratusan tahun lamanya banyak orang menderita akibat terserang virus siphilis (gonorrhea)? Kita dengan mudah melupakan peritiwa ratusan tahun lamanya umat manusia menderita sebelum vaksin penicilin ditemukan. Sebagaimana tergambar dalam puisi ini:
Annus Mirabilis
-a poem by Philip Larkin
Sexual intercourse began
In nineteen sixty-three
(which was rather late for me) -
Between the end of the Chatterley ban
And the Beatles’ first LP.
Up till then there’d only been
A sort of bargaining,
A wrangle for a ring,
A shame that started at sizteen
And spread to everything.
Then all at once the quarrel sank:
Everyone felt the same,
And every life became
A brilliant breaking of the bank,
A quite unlosable game.
So life was never better than
In nineteen sixty three
(Though just to late for me) -
Between the end of the Chatterley ban
And the Beatles’ first LP.
Berapa lama lagikah umat manusia dewasa ini akan menderita di bawah ancaman penyebaran virus HIV sebelum vaksin antivirus HIV ditemukan? Ingat penderitaan tersebut tidak hanya ditanggung oleh pendosa yang bersangkutan. Mereka yang tak punya kaitan apa pun dengan dosa yang dilakukan sebagaimana kaum Nabi Luth pun dapat terkena getahnya. Termasuk bayi yang baru lahir sekali pun.
Apa tidak lebih baik kita berpikir ulang untuk sebaiknya “takut akan Allah” ketimbang menjadi seseorang “tak takut akan Allah.” Sebab, perilaku menyimpang Anda itu tidak hanya merugikan Anda seorang mapun keluarga Anda. Tapi, perilaku menyimpang itu bisa berakibat pula kepada mereka yang tak terkait dan berbuat seperti Anda bahkan seorang bayi yang baru lahir sekali pun. Sebagaimana tergambar dalam puisi berikut:
This Be The Verse
- a poem by Philip Larkin
They fuck you up, your mum and dad.
They may not mean to, but they do.
They fill you with the faults they had
And add some extra, just for you.
But they were fucked up in their turn
By fools in old-style hats and coats,
Who half the time were soppy-stern
And half at one another’s throats.
Man hands on misery to man.
In deepens like a coastal shelf.
Get out as early as you can,
And don’t have any kids yourself.
Nah, jaringan internet ini pun tak pelak membawa ekses negatif. Terutama perihal menontonkan syahwat. Banyak orang yang menyalahgunakan teknologi internet . Termasuk mereka yang menyebarkan material pornografi.
Dan tak sedikit pula yang menjadikan internet sebagai wahana memangsa bagi kepuasan seksual. Menjadi pemangsa (predator) seksual apalagi terhadap anak di bawah umur, sebaiknya mulai berhati-hati. Jaksa Wilayah New York mengajukan petisi terhadap isi situs internet yang menyerang anak-anak. Meski kabarnya situs esek-esek ini lebih populer, Anda toh tak berniat ikut terjun di dalamnya. Kecuali Anda memang berniat menjual diri Anda, suami/istri Anda, bahkan anak-anak Anda.
Mudah-mudahan saja Anda masih waras.

